Home 2019 April 10 Dewan Pengarah Jaringan Doa dan Ketua 1 Asosiasi Pendeta Indonesia (API) DPD Jawa Barat Hadiri Sarasehan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)

Dewan Pengarah Jaringan Doa dan Ketua 1 Asosiasi Pendeta Indonesia (API) DPD Jawa Barat Hadiri Sarasehan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)

Dewan Pengarah Jaringan Doa dan Ketua 1 Asosiasi Pendeta Indonesia (API) DPD Jawa Barat Hadiri Sarasehan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)

Pada Selasa, 9/4/2019 siang bertempat di Hotel Marriott Bandung, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengadakan sarasehan bertajuk “Tanpa hoaks, Kita Rukun Berdemokrasi”. Dimana Dewan Pengarah Jaringan Doa Jawa Barat Pdt Yosi, dan juga Ketua 1 Asosiasi Pendeta Indonesia (API) DPD Jawa Barat Pdt Fecky Tatulus MTh turut diundang dalam acara tersebut. Acara diawali dengan ramah tamah makan siang, dan diikuti oleh berbagai organ masyarakat, lembaga daerah, praktisi social, dan praktisi media massa di Kota Bandung.
Dalam sarasehan dijelaskan berbagai macam materi mengenai hoaks dan ancamananya, sesi pertama dibuka oleh Mafindo dengan mempresentasikan mengenai “Hoaks dan Keutuhan Bangsa”, dimana diterangkan berbagai macam hoaks dilakukan seolah berita yang tidak benar itu di buat cerita nyata dan didukung oleh penyebar – penyebar melalui social media yang dalam hitungan detik dapat menyebar atau viral keseluruh dunia maya. “Padahal tugas kita sebagai Masyarakat Anti Fitnah Indonesia yang sudah ada diseluruh Indonesia dengan jumlah anggota sekitar enampuluh ribu orang, harus menjadi penjaga berita yang benar dan menghentikan hoaks yang ada” terang Panelis dari Mafindo
lalu dilanjutkan dari pihak Diskominfo Kota Bandung dengan presentasi “Kebijakan Negara dalam cegah hoaks dan ujaran kebencian” dimana dijelaskan beberapa tahun yang lalu Kota Bandung ditebarkan Hoaks yang cukup signifikan, dimana diantaranya mengenai kasus penculikan anak pada November 2108 lalu, Ridwan Kamil menonton film A Man Called Ahok, dan dibulan Oktober 2018 kasus penganiayaan Ratna Sarumpaet di Bandung, dan Pembakaran Bendera Merah Putih di Garut, itu benar mengundang kegelisahan.


Dalam penyebaran hoaks menurut Diskominfo Kota Bandung ada terjadinya Misinformasi, informasi yang salah, tapi orang yang membagikannya percaya itu benar. Biasanya berita ini tidak disengaja, si penyebar masih mungkin minta maaf saaat diingatkan. Lalu yang kedua Disinformasi, Informasi yang salah tapi orang yang membagikannya tahu bahwa informasi itu salah. Biasanya di sengaja, si penyebar biasanya resisten dan menjadi emosional jika diingatkan.
Acara diakhiri dengan penandatanganan Komitmen Bersama berbagai elemen social, agama dan budaya yang ada di Kota bandung sebagai bukti bahwa hoaks dan ujaran kebencian harus diatasi di wilayah Jawa Barat terkhusus di Kota Bandung. (Nala Gints)

 

Author: API JABAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *